Eudaimonia: Seni Menderita dengan Elegan
Coba baca lagi dua artikel yang sudah saya post sebelumnya. Jika kita tidak boleh ‘merasa terlalu nyaman’ dengan hidup kita dan ada dopamin yang selalu bikin kita ‘bosan’ dan ‘ga pernah puas’, lalu apa solusinya?
Apa yang bisa kita lakukan agar tidak terjebak dalam permainan dopamin yang selalu, dan selalu bikin kita komplain dan ga puas dengan kehidupan?
Jawabannya adalah coba bikin hidup anda sengsara, tapi bermakna.
Dua Hal yang Bikin Seneng
Dalam ilmu saraf (neurosains), kesenangan dapat dikategorikan menjadi dua yaitu Hedonia dan Eudaimonia.
Hedonia sudah cukup lama diteliti dan spot kebahagiaan sudah terdokumentasi dengan baik. Hedonia ini seringkali terjadi ketika kita sedang berhubungan badan (makanya orang seneng having sex), makan makanan enak, nonton film favorit dsb. Ini adalah sebuah kesenangan sementara yang mudah membuat orang bosan ketika kegiatan tersebut sudah tercapai.
Hedonia adalah apa yang saya sebut dalam artikel saya sebelumnya ‘kenyamanan yang beracun’ dan inilah yang disuntikkan dopamin kepada otak kita agar tetap semangat.
Eudaimonia memiliki struktur yang lebih kompleks. Peneliti masih belum memetakan apa yang terjadi pada otak ketika mengalami kesenangan Eudaimonia, tetapi spekulasi mengatakan bahwa keadaan ini melibatkan Default Network pada otak. Default network pada otak memiliki koneksi yang tumpang tindih dengan berbagai macam memori, identitas dan proyeksi masa depan.
In the end, kita masih belum memahami sains Eudaimonia sepenuhnya. Tetapi belum memahami bukan berarti tidak bisa mempraktikkan.
Peneliti membuat kategori Eudaimonia karena mereka melihat adanya kebahagiaan yang ‘tidak terlihat bahagia’. Hah? Gimana maksudnya?
Orang Jepang yang Tersesat
Saya mendapatkan cerita ini dari buku Mark Manson (meskipun saya lupa siapa nama Orang Jepang ini).
Singkat ceritanya, orang ini adalah survivor dari perang dunia II. Dia terjatuh di rimba Indocina (sekarang Thailand, Vietnam, Kamboja dkk). Dia terus berjuang perang gerilya sendirian, meskipun negaranya sudah menyerah kalah.
Dia mengira bahwa berita apa pun yang diberikan melalui selebaran hanyalah pancingan tentara sekutu untuk menangkapnya. Dia bertahan bertahun-tahun dengan keadaan hutan rimba.
Berburu untuk makan, mandi ga pake sabun, ga pernah scroll TikTok. Tapi, dia tetap bertahan hidup dalam situasi yang ‘tidak terlihat bahagia’.
Fenomena ini lah yang dilihat oleh para peneliti. Tipe kebahagiaan yang membuat kita tetap berkomitmen dan bertahan dalam kesengsaraan. Dan seperti yang saya katakan, hal tersebut cukup kompleks untuk dijelaskan.
Tetapi sekali anda dapat mempraktikkannya, anda bisa bertahan hidup dalam kondisi yang terlihat tidak memungkinkan.