Badut dan Lantai yang Licin


Jika kalian sudah memahami apa itu sesat pikir, tidak semua sesat pikir itu diciptakan setara.

Ada yang sudah terlewat bodoh sehingga hanya anak kecil saja yang bakal terpengaruh, ada yang diam-diam menghanyutkan.

Ad Hominem

Ini adalah sebuah sesat pikir yang bahasanya saja terlihat keren, tetapi banyak orang sudah bisa menerapkannya. Sesat pikir ini adalah ketika sebuah argumen menjadi salah hanya karena orang yang mengucapkannya terlihat tidak berkompeten.

Misalkan: Seorang anak SMA memberikan pendapat tentang suatu isu politik yang lagi panas. Pendapat dari seorang anak SMA mungkin bisa kita pertanyakan, tetapi bukan berarti pendapat anak tersebut salah.

Sesat pikir ad hominem adalah mengatakan “kamu masih kecil, tahu apa kamu soal politik”. Kita mengganti topik nya dari yang awalnya merupakan isu politik menjadi isu pengalaman (dan saya masih belum menemukan penelitian yang membahas korelasinya).

Pendapat seperti ini terasa cukup mudah dideteksi. Ini seperti melihat badut lagi masuk perpustakaan. Siapa sih yang ga sadar?

Slipery Slope

Menurut survey, sesat pikir ini adalah sesat pikir yang halus dan jarang sekali bisa terdeteksi dengan spontan oleh seseorang (bahkan mungkin saya sendiri juga tidak jarang menyimpulkan demikian).

Contoh gampangnya seperti ini: “Jika kita membiarkan AI untuk menuliskan diary kita agar lebih estetik, kemudian AI akan menyarankan kepada kita bagaimana memulai hari esok yang lebih baik. Akhirnya, AI akan mendikte seluruh kehidupan kita, bahkan seluruh umat manusia”

Terdengar masuk akal? Secara kronologis saya sedikit melebih-lebihkan, tetapi ketika kita buat argumennya dengan halus maka argumennya akan terdengar sedikit lebih masuk akal.

Tetapi coba pikirkan, bagaimana hubungannya menulis diary dengan mendikte seluruh umat manusia? Itu sudah terlalu jauh silogisme nya, dan butuh ratusan (mungkin sampai ribuan) jurnal untuk membuktikan hal tersebut.

Logika ini seringkali sulit kita identifikasi karena narasi yang halus akan membuatnya terdengar masuk akal. Apalagi jika ternyata narasi tersebut sesuai dengan agenda kita, butuh banyak pikiran untuk melakukan kritik terhadap narasi tersebut.

Kesimpulan

Tanpa adanya sikap kritis dalam diri kita, narasi yang halus akan membentuk sudut pandang kita dalam memandang dunia. Apa yang bisa kita lakukan?